MISKONSEPSI DALAM FISIKA
MISKONSEPSI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
Novak (1984 : 20) mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu
interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima.
Suparno (1998 : 95) memandang miskonsepsi sebagai pengertian
yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi
contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan
hierarkis konsep-konsep yang tidak benar.
Dari pengertian di atas miskonsepsi dapat diartikan sebagai
suatu konsepsi yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang
diterima oleh para ilmuwan.
Miskonsepsi didefinisikan sebagai konsepsi siswa yang tidak
cocok dengan konsepsi para ilmuwan, hanya dapat diterima dalam kasus-kasus
tertentu dan tidak berlaku untuk kasus-kasus lainnya serta tidak dapat
digeneralisasi.
Konsepsi tersebut pada umumnya dibangun berdasarkan akal
sehat (common sense) atau dibangun secara intuitif dalam upaya memberi makna
terhadap dunia pengalaman mereka sehari-hari dan hanya merupakan eksplanasi
pragmatis terhadap dunia realita. Miskonsepsi siswa mungkin pula diperoleh
melalui proses pembelajaran pada jenjang pendidikan sebelumnya (Sadia,
1996:13).
Penyebab dari resistennya sebuah miskonsepsi karena setiap
orang membangun pengetahuan persis dengan pengalamannya. Sekali kita telah
membangun pengetahuan, maka tidak mudah untuk memberi tahu bahwa hal tersebut
salah dengan jalan hanya memberi tahu untuk mengubah miskonsepsi itu. Jadi cara
untuk mengubah miskonsepsi adalah dengan jalan mengkonstruksi konsep baru yang
lebih cocok untuk menjelaskan pengalaman kita (Bodner, 1986 : 14).
Sejumlah miskonsepsi sangatlah bersifat resistan, walaupun
telah diusahakan untuk menyangkalnya dengan penalaran yang logis dengan
menunjukkan perbedaannya dengan pengamatan-pengamatan sebenarnya, yang
diperoleh dari peragaan dan percobaan yang dirancang khusus untuk maksud itu.
Jumlah siswa yang berpegang terus pada miskonsepsi cenderung menurun dengan
bertambahnya umur mereka dan makin tingginya strata pendidikan mereka.
Keterampilan siswa dalam mengubah-ubah bentuk matematis rumus-rumus yang
menyatakan hukum-hukum fisika dan kelincahan mereka dalam menggunakan rumus
untuk memecahkan soal-soal kuantitatif dapat menyembunyikan miskonsepsi mereka
tentang hukum-hukum itu. Belum tentu mereka dapat menyembunyikan hukum-hukum
itu secara kualitatif, seperti misalnya besaran mana yang merupakan sebab dan
besaran mana yang merupakan akibat pada penerapan hukum Ohm (Wilarjo, 1998 :
55).
Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut paradigma
konstruktivis, dalam pikiran setiap orang terdapat skemata. Melalui skemata itu
ia mampu membangun gambaran mental tentang gejala-gejala yang dialaminya.
Miskonsepsi didefinisikan sebagai konsepsi siswa yang tidak cocok dengan
konsepsi yang benar, hanya dapat ditemukan dalam kasus-kasus tertentu dan tidak
berlaku untuk kasus-kasus lainnya serta tidak dapat digeneralisasi. Miskonsepsi
akan terbentuk bila gambaran mental seseorang tidak sesuai dengan konsepsi
seorang ilmuwan.
Suatu miskonsepsi muncul bila gambaran tersebut dibayangkan
secara intuitif oleh seseorang atas dasar pengalaman sehari-harinya. Dalam
menangani miskonsepsi yang dipunyai siswa, kiranya perlu diketahui lebih dahulu
konsep-konsep alternatif apa saja yang dipunyai siswa dan dari mana mereka
mendapatkannya. Dengan demikian kita dapat memikirkan bagaimana
mengatasinya.
Diperlukan cara-cara mengidentifikasi atau mendeteksi salah
pengertian tersebut yaitu melalui peta konsep, tes essai, interview klinis dan
diskusi kelas (Novak, 1985 : 94 ; Pearsall, 1996:199 ; Sadia, 1997:8 ; Harlen,
1992:176).
a. Peta Konsep (Concept Maps)
Novak (1985 : 94) mendefinisikan peta konsep sebagai suatu
alat skematis untuk merepresentasikan suatu rangkaian konsep yang digambarkan
dalam suatu kerangka proposisi.
Peta itu mengungkapkan hubungan-hubungan yang berarti antara
konsep-konsep dan menekankan gagasan-gagasan pokok. Peta konsep disusun
hierarkis, konsep esensial akan berada pada bagian atas peta. Miskonsepsi dapat
diidentifikasi dengan melihat hubungan antara dua konsep apakah benar atau
tidak. Biasanya miskonsepsi dapat dilihat dalam proposisi yang salah dan tidak
adanya hubungan yang lengkap antar konsep.
Pearsal (1996 : 199) menyatakan bahwa dengan peta konsep
kita dapat melihat refleksi pengetahuan yang dimiliki siswa. Dengan mencermati
kompleksitas peta konsep tersebut kita dapat mendeteksi konsep-konsep mana yang
kurang tepat dan sekaligus perubahan konsepnya. Untuk lebih melihat latar
belakang susunan peta konsep tersebut ada baiknya peta konsep itu digabung
dengan interview klinis. Dalam interview itu siswa diminta mengungkapkan lebih
mendalam gagasan-gagasannya.
b. Tes Esai Tertulis
Guru dapat mempersiapkan suatu tes esai yang memuat beberapa
konsep fisika yang memang mau diajarkan atau yang sudah diajarkan. Dari tes
tersebut dapat diketahui salah pengertian yang dibawa siswa dan salah
pengertian dalam bidang apa. Setelah ditemukan salah pengertiannya, beberapa siswa
dapat diwawancarai untuk lebih mendalami mengapa mereka punya gagasan seperti
itu. Dari wawancara itulah akan kentara dari mana salah pengertian itu dibawa.
c. Interview klinis
Interview klinis dilakukan untuk melihat miskonsepsi pada
siswa. Guru memilih beberapa konsep fisika yang diperkirakan sulit dimengerti
siswa, atau beberapa konsep fisika yang essensial dari bahan yang mau
diajarkan. Kemudian, siswa diajak untuk mengekspresikan gagasan mereka mengenai
konsep-konsep di atas. Dari sini dapat dimengerti latar belakang munculnya
miskonsepsi yang ada dan sekaligus ditanyakan dari mana mereka memperoleh
miskonsepsi tersebut.
d. Diskusi dalam Kelas
Dalam kelas siswa diminta untuk mengungkapkan gagasan mereka
tentang konsep yang sudah diajarkan atau yang mau diajarkan. Dari diskusi di
kelas itu dapat dideteksi juga apakah gagasan/ide mereka tepat atau tidak
(Harlen, 1992:176). Dari diskusi tersebut, guru atau seorang peneliti dapat
mengerti konsep-konsep alternatif yang dipunyai siswa. Cara ini lebih cocok
digunakan pada kelas yang besar dan juga sebagai penjajakan awal.
Miskonsepsi sangatlah resisten dalam pembelajaran bila tidak
diperhatikan dengan seksama oleh guru. Di bawah ini diberikan beberapa contoh
miskonsepsi yang sering dijumpai pada siswa.
Gerak
Gerak berkaitan dengan perubahan posisi benda
seperti gerakan cepat dari kereta bawah tanah ini
sumber : wikipedia.org
Banyak siswa juga punya salah pengertian tentang percepatan
gravitasi. Kebanyakan siswa secara spontan mengatakan bahwa sebuah benda yang
lebih berat akan jatuh lebih cepat daripada benda yang ringan pada peristiwa
gerak jatuh bebas.
Beberapa siswa malah masih menganggap bahwa bola besi dan
bola plastik yang dijatuhkan bebas dari ketinggian yang sama akan sampai di
tanah dalam waktu yang berbeda karena bola besi akan jatuh lebih cepat dari
bola plastik. Padahal menurut prinsip fisika, kedua benda itu akan jatuh dengan
percepatan yang sama dan waktu yang ditempuh sampai ke lantai juga sama (bila
tidak ada unsur lain yang mempengaruhi).
Cukup banyak siswa juga berpikir bahwa jika dua benda
bergerak dalam waktu dan percepatan yang sama, mereka akan punya jarak tempuh
sama pula. Mereka lupa bahwa kecepatan awal perlu diperhitungkan karena unsur
itu yang membuat jaraknya berbeda. Menurut beberapa penelitian, salah
pengertian terbanyak terjadi pada gerak parabola. Siswa masih sulit menangkap
mengapa kecepatan pada puncak suatu projektil adalah nol, meski percepatannya
tidak nol. Mereka berpikir bahwa jika kecepatan itu nol, percepatannnya juga
harus nol (Suparno, 1998:97).
Gaya, massa, dan berat
Gaya (bisa tarik atau tolak) timbul karena fenomena
gravitasi, magnet atau yang lain
sehingga mengakibatkan percepatan,
Banyak siswa bingung dengan konsep dari gaya, massa dan
berat.
Dalam fisika, berat (G) adalah suatu gaya (F) dan punya unit
newton; sedangkan massa (m) punya satuan kilogram, dan ini bukan gaya.
Namun, banyak siswa menuliskan bahwa berat adalah suatu
massa dan punya satuan kilogram. Beberapa siswa menghubungkan gaya dengan suatu
aksi dan gerak.
Maka mereka menangkap bahwa jika tidak ada suatu gaya, tidak
akan ada suatu gerakan. Akibatnya, mereka berpikir bahwa bila tidak ada gerak
sama sekali, juga tidak ada gaya.
Misalnya, jika seorang mendorong suatu kereta dan kereta itu
bergerak, siswa mengatakan ada suatu gaya bekerja pada kereta itu. Namun, bila
kereta itu tidak bergerak, mereka mengatakan bahwa tidak ada gaya pada kereta
tersebut, meski orang itu mendorong kereta dengan energi yang besar. Dalam
fisika, meski kereta tidak bergerak, tetap ada gaya yang bekerja padanya.
Kerja, kekekalan energi dan momentum :
Dalam fisika, kerja (W) sama dengan gaya (F) kali jarak (S)
(W = F.S). Jika suatu gaya (F) bekerja pada suatu objek dan objek itu tidak
bergerak dalam suatu jarak tertentu (S), maka tidak ada kerja (W).
Di sini beberapa siswa berpikir bahwa di situ ada kerja (W).
Mereka sulit mengerti mengapa jika seseorang mendorong suatu kereta dengan
banyak energi, ia tidak membuat kerja.
Mereka berpikir bahwa jika seseorang membuat aktivitas
dengan suatu energi ia membuat suatu kerja, gagasan ini bertentangan dengan
prinsip fisika yang diterima. Beberapa siswa mengalami kesulitan untuk memahami
konsep kekekalan energi. Mereka mengalami dalam hidup mereka bahwa jika mereka
mengendarai mobil atau sepeda motor cukup lama, bensinnya akan habis.
Jika mereka bekerja giat, mereka akan lelah kehabisan
tenaga. “Bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa energinya tetap/kekal?"
demikian mereka menyangsikan.
Beberapa siswa mengatakan bahwa jika dua kereta dengan
kecepatan yang sama tetapi arahnya berlawanan bertumbukan, mereka akan berhenti
karena kecepatan totalnya menjadi nol. Mereka lupa bahwa kekekalan momentum
membutuhkan resultan momentum (mv) = 0. Maka jika massanya berbeda, mereka
tidak akan berhenti langsung (Suparno, 1998:98).
Dalam Bidang Optiik :
Banyak siswa punya salah pengertian mengenai hukum refleksi
cahaya kedua. Mereka berpikir bahwa kesamaan antara sudut datang dan sudut
refleksi hanya terjadi pada suatu kaca datar.
Miskonsepsi yang sering dijumpai adalah bahwa kita melihat
sebuah benda bila kita memancarkan sinar cahaya dari mata ke benda itu.
Miskonsepsi yang lain bahwa kita dapat melihat bayangan sekujur tubuh kita
dalam cermin yang kecil asalkan kita berdiri cukup jauh dari cermin itu. Tentu
saja semuanya tidak benar, karena ada ukuran minimum agar badan kita tampak
seluruhnya dalam cermin.
Miskonsepsi yang lazim dalam Optika ialah bahwa bila kita
menatap langit yang bertabur bintang dari bumi pada suatu malam, kita akan
melihat bintang-bintang itu berkedip-kedip, sedangkan planet-planet tidak
berkedip-kedip.
Alasan yang mendukung miskonsepsi ini adalah karena
bintang-bintang memancarkan cahaya sendiri, sedangkan planet hanya memancarkan
cahaya yang mereka pantulkan dari matahari. Bahwa bintang-bintang menyinarkan
cahaya mereka sendiri sedangkan planet hanya sebagai pemantul memang benar,
tetapi di langit malam planet juga berkedip-kedip.
Kedip-kedipan itu disebabkan oleh berubahnya rapat udara
dalam atmosfer bumi. Lapisan atmosfer yang bergejolak ini menyimpangkan garis
pandang kita. Planet merupakan obyek yang kelihatan lebih besar sebab letaknya
lebih dekat.
Itulah sebabnya mengapa kedipan planet kurang nyata
dibandingkan dengan bintang, namun planet-planet itu toh berkedip-kedip juga.
Dari beberapa miskonsepsi yang telah dikemukakan ada
beberapa faktor kemungkinan penyebab miskonsepsi tersebut , antara lain :
(1) buku pelajaran, buku pelajaran yang memuat rumus atau
uraian materi yang salah dapat memicu miskonsepsi,
(2) guru-guru yang mengalami miskonsepsi dengan sendirinya
akan menjadi penyebab utama munculnya miskonsepsi pada siswa,
(3) kesalahan bahasa, dalam banyak kasus kesalahan bahasa
ini muncul akibat budaya masyarakat yang terlanjur salah-kaprah dalam
mendefinisikan sesuatu secara ilmiah, misalnya pengertian berat dan massa,
(4) intuisi yang salah, ini merupakan faktor yang paling
dominan mengakibatkan miskonsepsi di kalangan siswa, misalnya anggapan massa
jenis zat padat selalu lebih besar dari zat cair,
(5) metode mengajar yang tidak tepat, metode mengajar yang
tidak tepat akan dapat memicu munculnya miskonsepsi.
Bidang Termodinamika
Banyak siswa memiliki pengertian bahwa suatu benda yang
mempunyai suhu lebih tinggi selalu punya panas yang lebih
tinggi.
Mereka menyamakan begitu saja pengetian suhu dengan
panas/kalor. Kerap kali mereka tidak membedakan antara suhu dan panas.
Gerak
1) Konsep kecepatan
sesaat, percepatan sesaat.(mereka memahami istilah sesaat sebagai suatu waktu
interval meski merupakan interval yang sangat kecil).
2) Konsep percepatan
gravitasi.
3) Konsep benda yang
lebih berat akan jatuh lebih cepat daripada benda
yanglebih ringan.
4) Konsep bila dua
benda bergerak dengan waktu danpercepatan yang sama, mereka akan
mempunyaijarak tempuh yang sama.
5) Siswa sulit menangkap
mengapa kecepatan pada puncak suatu proyektil adalah nol, padahal percepatannya
tidak nol.
Komentar
Posting Komentar